Pemerintah Arahkan Wisata Indonesia Menuju Era Digital

Perkembangan teknologi kini mulai dimanfaatkan oleh Kementerian Pariwisata untuk mendorong pariwisata Indonesia semakin terkenal. Salah satunya dengan digitalisasi objek dan semua yang terkait pariwisata. Menteri Arief Yahya beranggapan dengan menjadikan akses informasi, transportasi, akomodasi dan semua yang terkait pariwisata dalam bentuk digital serta saling terkait, akan memudahkan industri pariwisata berkembang.

Menteri Pariwisata Indonesia, Arief Yahya

Menteri Pariwisata Indonesia, Arief Yahya

“Ini momentum Go Digital, dan Kemenpar serius melakukan digitalisasi semua lini. Membangun perangkat keras butuh waktu panjang, kami fokus menuntaskan yang bisa jadi solusi bersama, yakni menyiapkan piranti lunak dan teknologinya sembari membangun infrastruktur prioritas,” kata Arief.

Kecanggihan teknologi itu, sebut Arief, memungkinkan wisatawan tak perlu lagi menelpon atau datang ke Pusat Informasi Turis secara fisik. Terlebih, dalam dekade terakhir, beragam aplikasi bertema wisata muncul seiring perkembangan telepon pintar. Beberapa aplikasi perjalanan seperti TripAdvisor, Booking.com, Traveloka, dan sejenisnya banyak digunakan wisatawan baik domestik maupun mancanegara dalam memuluskan rencana liburan mereka.

Peluang ini juga yang ditangkap Kemenpar. Melalui kebijakannya, Arief meminta untuk dibangun koneksi antar aplikasi penyedia informasi turis, tiket pesawat atau akomodasi, hotel, hingga lokasi wisata.

Menurut Samsriyono, staf khusus Kemenpar bidang teknologi dan informasi, kini sudah ada banyak jaringan penyedia jasa pariwisata yang berminat tergabung. Beberapa di antara mereka seperti jaringan MG Holiday, Swiss-bell, Hotel Trans Luxury, hingga lokasi wisata seperti Jungleland, dan ITDC Nusa Dua.

“Tanggapan dinas pariwisata daerah sangat responsif, sudah ada 20 dinas yang minta tindak lanjut untuk digitalisasi ini. Rencananya akan kami lakukan akselerasi per wilayah,” kata dia.

Demi rencana yang lebih matang, Arief juga mendatangi salah satu perusahaan teknologi asal Negeri Tirai Bambu, Baidu, pada 22 September lalu di Beijing, China.

Baidu menciptakan Baidu Maps yang membantu wisatawan Tiongkok yang berlibur di Indonesia, untuk mengeksplorasi daerah baru tanpa khawatir terkendala bahasa dan informasi. Baidu Maps memiliki konten informasi yang detil sebagai bahan referensi wisatawan Tiongkok.

Perusahaan tersebut diketahui telah digunakan sebagai mesin pencari yang menguasai 95 persen pasar di China. Dan riwayat kerjasama yang berdampak positif antara Baidu dengan Thailand juga jadi pendorong Arief untuk pergi ke Beijing dan bekerjasama dengan Baidu.

“Sebagai perusahaan berbasis mesin pencari, kami melihat Indonesia sangat potensial, sangat strategis selain India dan Brasil yang memiliki masa depan bagus. Indonesia itu negara besar dan rasio pengguna internet juga terus bertambah, termasuk sektor pariwisata,” kata Richard Lee, direktur bisnis internasional Baidu.

Impian Indonesia untuk lebih banyak menggaet wisatawan asal Tiongkok juga ditanggapi positif oleh Lee. Dia menilai target 10 juta wisatawan Tiongkok hingga 2019 nanti bukan hal yang mustahil.

Menurut data Kemenpar, warga China yang bepergian ke luar negeri pada 2015, berjumlah 120 juta orang. Namun, ternyata Indonesia masih belum menjadi sasaran utama wisatawan Tiongkok. Mereka masih mengidolakan Hong Kong, Macau, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Amerika Serikat, Perancis, Singapura, dan Jerman.

Indonesia masih baru diminati sebesar satu persen dari seluruh wisatawan asal Tiongkok, yakni sekitar 1,2 juta orang.

Menurut Lee, wisatawan Tiongkok banyak berasal dari Guangdong, Beijing, dan Shanghai. Kebanyakan wisatawan tersebut sudah mulai eksplorasi ke Bali dan bagian Indonesia lainnya, namun masih diperlukan destinasi lain sebagai alternatif.

“Bali sudah terkenal di China sebagai pulau untuk bulan madu terbaik. Dan kami ingin bekerja sama dalam jangka panjang dengan Indonesia,” kata Lee.

Source: www.cnnindonesia.com