Permintaan Tinggi, Squline Hadirkan Kursus Online Bahasa Jepang

Berdasarkan penelusuran terhadap pencarian terpopuler di Google Trend, kursus Bahasa Inggris adalah jenis kursus yang paling dicari oleh masyarakat. Kata kunci kursus Bahasa Inggris menempati urutan pertama, atau memperoleh sekitar sembilan puluh persen dari total pencarian, demikian Tommy Yunus, Co-Founder dan CEO Squline.

Sementara itu, Tommy menambahkan, kursus Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang, hanya menempati tiga sampai empat persen dari total pencarian. Meski persentasenya tergolong kecil, angka ini menunjukkan adanya minat masyarakat terhadap kedua bahasa tersebut.

squline

Alasan inilah yang mendorong Squline untuk menyediakan layanan terbarunya yakni kursus online Bahasa Jepang. Squline adalah platform belajar bahasa asing secara online. Di tahun 2013, layanan ini hanya memberikan kursus bahasa Mandarin. Setahun berselang, Squline menambahkan kursus Bahasa Inggris.

Terkait angka pencarian kursus Bahasa Jepang yang begitu kecil, Tommy menjelaskan keputusan Squline membuka kursus Bahasa Jepang ini bukan dihitung berdasarkan dari potensi pasar. Namun, berdasarkan besarnya permintaan kursus Bahasa Jepang yang datang kepada mereka.

“Kita lihatnya dari bottom to top. Kita lihat siapa yang mau belajar Bahasa Jepang (bottom), bukan pasarnya (top). Artinya, kita melihat dari berapa banyak yang meminta kursus tersebut kepada kita, berapa banyak komunitasnya,” ia menjelaskan.

Karena hanya menyediakan platform, Squline bekerja sama dengan penyedia kursus bahasa asing untuk menyediakan tenaga pengajar. Saat ini Squline sudah bekerja sama dengan enam institusi bahasa asing.

Untuk tenaga pengajar Bahasa Jepang sendiri, Squline bekerja sama dengan Aki no Sora, sebuah Institut Kebudayaan dan Bahasa Jepang di Bandung. Dengan kerja sama ini, diharapkan Squline bisa membantu  masyarakat yang ingin belajar Bahasa Jepang kapan saja dan di mana saja.

Pertumbuhan melonjak

Sejak berdiri pada 2013, pertumbuhan pengguna tertinggi di Squline melonjak di dua tahun pertama. Pertumbuhan ini, menurut Tommy, turut membantu peningkatan pendapatan Squline hingga lebih dari 150 persen. Peningkatan ini terjadi karena Squline meluncurkan kursus Bahasa Inggris pada 2014.

Selain itu, hal ini juga terjadi lantaran mereka sudah mendapat pembinaan. “Squline menjadi lebih dewasa’ karena masuk Ciputra GEPI Incubator di awal 2015. Kita mendapat mentor yang membimbing bagaimana caranya menjalankan startup.”

Saat ini Squline telah memiliki lebih dari seribu pengguna berbayar. Mereka berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, Amerika Serikat, Filipina, Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

Source: id.techinasia.com