Hal-Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Penggunaan Tracker dalam Aplikasi Mobile

Pada tanggal 1 November 2016 yang lalu, dunia e-commerce tanah air sempat dikejutkan dengan hasil riset dari perusahaan browser Opera tentang penggunaan pelacak (tracker) dalam aplikasi mobile. Menurut perusahaan asal Norwegia tersebut, ada beberapa aplikasi e-commerce asal Indonesia yang mengirim tracker dalam jumlah yang cukup banyak.

Dalam rilis tersebut, Opera juga menyatakan kalau tracker itu berpotensi membuat data sensitif pengguna, seperti nomor rekening bank, jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini pun memicu kekhawatiran: apakah betul menggunakan aplikasi mobile milik e-commerce dalam negeri membuat data pribadi kita menjadi tidak aman?

aplikasi-security-android-terbaik-gratis-untuk-keamanan-_-featured-image

OLX, salah satu e-commerce yang disebut menggunakan tracker terbanyak oleh Opera, memilih untuk angkat bicara.

“Pertama kali mendengar hasil riset Opera, saya pun bingung data pribadi mana yang bisa kami bocorkan (dengan tracker). Karena pada dasarnya, kami hanya merupakan situs iklan baris yang tidak menyimpan alamat atau nomor kartu kredit pengguna,” tutur Rendra Toro, Technical Manager OLX Indonesia.

Menurut Rendra, tracker merupakan sebuah hal yang umum digunakan oleh setiap e-commerce di seluruh dunia. Dan seharusnya, Opera memberikan keterangan yang lebih lengkap tentang penggunaan tracker, agar tidak menimbulkan persepsi yang salah di tengah masyarakat.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kamu tahu tentang penggunaan tracker dan keamanan aplikasi mobile secara umum.

Perbedaan jenis tracker yang ada di dalam aplikasi mobile

Rendra menjelaskan kalau sebenarnya ada dua jenis tracker yang biasa digunakan, yaitu tracker untuk mengambil data pengguna seperti yang disebutkan Opera, dan tracker yang digunakan untuk melacak kebiasaan (behavior) pengguna. Dan menurut Rendra, tracker jenis kedua inilah yang sering digunakan oleh OLX.

“Contohnya, kami merekam setiap kali kamu memilih sebuah pakaian atau sepatu, serta ketika kamu menggeser layar (scrolling) ke atas atau ke bawah saat melihat produk tertentu,” ujar Rendra. Hal ini mereka lakukan agar bisa mengetahui kebiasaan para pengguna, dan selanjutnya bisa menghadirkan sebuah aplikasi yang nyaman digunakan.

Hal ini pun diamini oleh CTO Pinjam, Sofian Hadiwijaya. Menurutnya, peran tracker yang bisa merekam kebiasaan pengguna tersebut justru sangat penting agar para developer bisa menghadirkan performa aplikasi yang lebih baik bagi pengguna.

Sofian juga menyatakan kalau aplikasi Opera Max, yang digunakan Opera dalam riset tersebut, ironisnya juga turut menggunakan tracker.

“Adapun bila dikatakan kami menggunakan tracker dalam jumlah yang banyak, hal tersebut pun masih relatif. Karena hingga saat ini, belum ada standar tentang berapa jumlah tracker yang rata-rata digunakan oleh aplikasi mobile e-commerce di seluruh dunia,” tutur Rendra.

Waspada terhadap permintaan akses yang berlebihan

Selain tracker, hal lain yang juga harus diketahui oleh para pengguna adalah apa saja akses yang diminta oleh setiap aplikasi. Untuk memeriksanya, kamu bisa melihat halaman dari sebuah aplikasi tertentu di Google Play misalnya, lalu memilih pilihan Permission Details.

“Ada beberapa Permission tertentu yang bisa diminta oleh aplikasi mobile, dan cukup berbahaya apabila kita memberikan akses terhadapnya,” ujar Sofian.

Namun tentu kamu tidak perlu langsung khawatir apabila menemukan sebuah aplikasi meminta akses yang menurut kamu aneh. Contohnya apabila ada aplikasi yang meminta izin untuk bisa mengirim pesan dari smartphone kamu. Menurut Rendra, izin tersebut berguna agar aplikasi tersebut bisa melakukan autentikasi.

Kalau kamu menggunakan aplikasi OLX, kamu pun akan menemukan sebuah Permission yang cukup aneh, yaitu izin untuk merekam suara. Rendra pun menjawab kalau Permission tersebut berguna agar pengguna OLX bisa mengirimkan keluhan dalam bentuk rekaman suara, lewat  layanan Zendesk yang mereka gunakan di dalam aplikasi mereka.

Perbedaan sistem keamanan di Android dan iOS

Sofian juga menyoroti perbedaan aturan keamanan antara smartphone berbasis Android dan iOS. “Di iOS, mereka lebih ketat dalam membatasi akses, seperti larangan melakukan proses di belakang layar, atau larangan penggunaan layanan pihak ketiga,” jelas Sofian.

Namun saat ini, Android pun telah terus melakukan perbaikan terkait aturan keamanan mereka. Contohnya untuk Android versi 6 atau yang lebih baru, menurut Sofian, mereka akan meminta izin untuk setiap Permission satu persatu, bukan meminta izin sekali untuk semua akses. Namun hal itu hanya berlaku untuk sistem operasi Android yang asli dibuat Google.

Intinya, menurut Rendra, masyarakat harus lebih cerdas ketika menggunakan berbagai aplikasi di smartphone mereka. Para pengguna tersebut harus membaca dengan rinci setiap Terms and Conditions yang mereka terima, dan bertanya kepada pembuat aplikasi apabila ada istilah-istilah yang tidak mereka pahami.

Selain itu, masyarakat juga harus tenang dan tidak impulsif ketika mendengar sebuah berita terkait potensi pencurian keamanan data pribadi, serta berusaha mencari informasi yang lengkap terkait hal tersebut

Source: id.techinasia.com