3 Hal yang Perlu Developer Perhatikan Ketika Membuat Game Free-to-Play

Skema free-to-play atau freemium merupakan salah satu jenis monetisasi yang sangat populer di dunia video game. Dengan menyediakan konten secara gratis, developer bisa menjangkau jumlah pemain yang banyak dengan cepat. Pemain pun diuntungkan karena bisa mendapat hiburan tanpa harus membayar di muka, bahkan berkesempatan mencicipi game yang mungkin tidak akan dikenal bila dijual secara premium.

Meski punya banyak keuntungan, free-to-play juga bisa berdampak buruk ketika tidak dieksekusi dengan baik. Apa saja hal yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan pengalaman free-to-play yang memuaskan? Valentinus Rama Kurniangga, kepala divisi mobile dari Agate Studio, berbagi ilmu kepada Tech in Asia Indonesia untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Clash-of-Clans-Featured

Pahami jenis-jenis perilaku pemain

Pemain game free-to-play memiliki perilaku yang berbeda dengan pemain game premium. Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Valent itu mengatakan bahwa skema monetisasi harus diputuskan di awal. Tentukan apakah game yang kamu buat akan dijual secara freemium atau premium, baru kemudian susun desain game sesuai skema monetisasi tersebut.

Perbedaan terbesar antara dua jenis game tersebut terletak pada apa yang disebut sebagai hook, alias keberhasilan “memancing” minat pemain. Ketika sebuah game dijual secara premium, pemain yang membeli bisa dipastikan sudah berminat terhadap game tersebut. Tapi untuk game free-to-play, pemain yang melakukan instalasi game belum tentu sudah tertarik memainkannya.

“Di game premium, karena sudah beli, kita anggap dia pasti akan main si game. Developer tinggal pusing game itu worth to buy atau tidak. Kalau di free-to-play, game itu bahkan harus worth to try dulu,” demikian jelas Valent.

Agar pengguna langsung merasa bahwa game yang mereka unduh itu layak dimainkan, developer free-to-play harus bisa membuat pemain mencapai suatu progres dalam waktu singkat. Progres yang dimaksud bisa bermacam-macam, seperti keberhasilan menyelesaikan pertarungan, perolehan reward, dan sebagainya.

Jangka waktu yang dibutuhkan pemain untuk mencapai progres disebut sebagai session time, dan merupakan hal terpenting ketika mendesain sebuah game free-to-play. Menurut Valent, session time ideal untuk game free-to-play adalah sekitar tiga menit. “Itu buat free-to-play mobile ya. Kalau free-to-play di PC sih bisa lebih panjang dari tiga menit,” ujarnya.

Pertahankan minat dengan berbagai cara

Setelah berhasil memancing minat pemain, bukan berarti pekerjaan developer sudah selesai. Justru pekerjaan berikutnya yang lebih berat menanti, yaitu mempertahankan pengguna yang sudah ada.

Berhubung game tersedia secara gratis, bila pemain bosan ia bisa dengan mudah menghapus game tersebut dari perangkat miliknya lalu pindah ke game lain. Persaingan ini lebih ketat lagi di mobile, di mana perhatian pengguna juga akan terbagi dengan aplikasi lain seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, dan sebagainya.

Meskipun demikian, kualitas gameplay tetap jadi prioritas nomor satu. Bila dari segi gameplay sendiri tidak menyenangkan, tentunya pemain tidak akan betah main berlama-lama. Selanjutnya, tergantung dari jenis game yang dibuat, developer bisa memanfaatkan setidaknya tiga strategi di bawah untuk membuat para pemain mau terus bermain, dan pada akhirnya juga mau membayar. Ketiga strategi tersebut adalah:

1. Menjual konten utama

Contohnya bisa kita lihat dalam game seperti Layton Brothers: Mystery Room dan Super Mario Run. Pengguna bisa mencoba awal game secara gratis, tapi harus membeli semacam DLC bila ingin memainkan stage atau cerita selanjutnya. Nintendo menyebut praktik seperti ini sebagai skema free-to-start.

2. Memasukkan unsur metagame dalam permainan

Metagame adalah berbagai strategi dan fitur yang bisa diulik pemain untuk menambah kekuatannya di dalam gameplay utama. “Biasanya dalam game yang midcore pasti ada, seperti pengaturan deck, pengaturan party, leveling, upgrade senjata, dan lain-lain,” kata Valent menambahkan.

Metagame bisa ada baik di game kompetitif (player versus player) ataupun nonkompetitif (player versus enemy). Yang jelas, keberadaan metagame akan membuat pemain penasaran, sehingga terdorong untuk terus main dan memperkuat diri. Developer kemudian bisa menawarkan IAP untuk mempercepat progres metagame tersebut.

3. Menumbuhkan keinginan untuk pamer

Strategi ketiga yaitu menjual konten tambahan yang menumbuhkan keinginan untuk pamer (bragging rights). Wujud paling sederhana adalah menjual kosmetik. Penjualan kosmetik ini dapat digabungkan dengan strategi penjualan lain. Contohnya bisa kita lihat dalam Overwatch yang dijual secara premium tapi juga terus menawarkan konten kosmetik secara berkala.

Desain game dan monetisasi harus sama-sama baik

Pada akhirnya, tujuan pembuatan game maupun strategi-strategi di atas sama, yaitu mendatangkan uang. Tapi terlalu fokus pada monetisasi juga tidak baik karena berpotensi mengorbankan kualitas produk yang dihasilkan. Menurut Valent, prioritas yang dipikirkan ketika membuat game sebaiknya mengikuti urutan berikut:

  1. Gameplay (kualitas game itu sendiri)
  2. Retention (membuat pengguna betah)
  3. Monetization (mendapatkan uang)

Ricardo Vladimiro dari Miniclip pernah berkata dalam tulisannya, “Make a great game, the money will follow it.” Developer bisa saja memanfaatkan cara-cara kotor untuk membuat pengguna kecanduan sehingga terdorong untuk terus-menerus menggelontorkan dana. Tapi game terbaik baru akan muncul dari keseimbangan antara desain game dan monetisasi yang baik pula.

“Make a great game, the money will follow it.”

Sama seperti skema penjualan game premium, free-to-play hanyalah alat. Game yang menggunakan sistem free-to-play belum tentu lebih buruk dari game premium, begitu juga sebaliknya. Apakah produk yang dihasilkan baik atau buruk, itu tergantung dari bagaimana alat ini digunakan oleh para developer.

Lewat free-to-play, game berkualitas bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, bahkan bisa merangkul masyarakat non-gamer untuk beralih menjadi gamer. Peningkatan jumlah gamer akan ikut mendorong pertumbuhan industri game, dan hal ini tentunya mendatangkan manfaat, baik bagi para pelaku industri ataupun para gamer itu sendiri.

Source: id.techinasia.com