4 Nasihat yang Perlu Diketahui oleh para Founder Startup Muda di Asia

Halo, nama saya Alan, Founder perusahaan software bernama CrewFire, platform pemasaran berbasis mulut ke mulut yang didesain untuk bisnis. Dalam membangun startup yang menguntungkan ini, kami melakukan bootstrap, dan didukung oleh tim kecil: enam orang pekerja purnawaktu dan tiga orang pekerja paruh waktu.

Kami sangat beruntung bisa mengantongi sedikit nasihat nontradisional dari para entrepreneur pendahulu kami, yaitu DHH dan Jason Fried dari Basecamp/37 Signals. Nasihat mereka telah menyebar di kalangan komunitas startup dan teknologi di negara Barat.

Namun setelah tiga tahun tinggal di Vietnam, saya menyadari bahwa nasihat tersebut luput dari perhatian komunitas startup dan teknologi di Asia. Padahal nasihat itu penting bagi para founder muda di Asia yang penuh semangat dan harapan membangun bisnis masing-masing.

Entering-startup-_-FeaturedEntering-startup-_-Featured

Tulisan ini mungkin bisa ditujukan bagi para entreprenur pada umumnya, karena pelajaran-pelajaran di dalamnya bisa diaplikasikan secara universal. Tapi, secara khusus saya hanya ingin menyasar entrepreneur muda di Asia, karena tampaknya belum ada yang membahas masalah ini.

Jadi, apa saja pelajaran yang bisa diambil para entrepreneur di kawasan Asia?

Buat produk yang akan dibeli pengguna

Ide brilian, bukan? Ide ini memang sangat sederhana hingga terkesan agak bodoh saat diungkapkan. Tapi, dari pengalaman saya berinteraksi dengan startup lokal, universitas, sekolah pemrograman, dan akselerator di Vietnam, ada banyak entrepreneur muda yang tidak mengikuti aturan sederhana ini.

Contoh ide startup yang tidak akan dibeli pengguna antara lain marketplace (menghubungkan pembeli dan penjual untuk produk X, Airbnb untuk produk Y, Uber untuk Z, dan sebagainya), jejaring sosial, game, dan ide-ide lain yang melibatkan iklan dalam bisnis modelnya.

Alasan lahirnya ide-ide ini jelas sekali. Kebanyakan unicorn besar dengan nilai miliaran dolar masuk ke dalam kategori ini (Facebook, Twitter, Airbnb, Uber, dan Snapchat). Di Vietnam sendiri, kesuksesan Flappy Bird telah menarik perhatian banyak developer muda untuk membuat game mobile.

Kehebohan ini telah mendominasi berbagai pemberitaan di media. Jadi, rasanya wajar sekali bila banyak entrepreneur muda mengikuti jejak keberhasilan produk-produk yang mereka lihat, gunakan, dan dengar setiap hari. Akhirnya, mereka pun membuat ide serupa.

Tipe bisnis seperti ini memang dapat tumbuh dengan pesat. Masalahnya adalah sulit membuat bisnis ini berkesinambungan dan menguntungkan.

Kamu bisa memperoleh pundi-pundi uang melalui bisnis marketplace dengan beberapa cara, antara lain dengan mengambil beberapa persen dari tiap transaksi, mengenakan biaya pendaftaran, atau mematok tarif iklan bagi para penjual.

Tantangan besar di bisnis marketplace adalah kamu harus memfasilitasi transaksi dalam jumlah besar, sebelum akhirnya beberapa persen yang kamu ambil sebagai pemasukan mulai terasa. Jadi, marketplace ini harus berkembang agar bisnis kamu dapat berjalan. Namun, meski marketplace kamu berkembang, kadang bisnismu pun tidak dapat berjalan dengan baik.

Tantangan ini sedang terjadi pada Uber. Sejumlah pengemudi Uber marah, yang berakibat perusahaan tersebut dikabarkan merugi hingga US$3 miliar (sekitar Rp40 triliun)

Sementara itu, bisnis model yang diusung jejaring sosial, game, dan bisnis lain yang mengandalkan iklan pun punya cerita sama. Kamu harus menggaet pengguna dalam jumlah besar untuk memperoleh impresi yang cukup, menjual iklan, dan akhirnya menjalankan bisnis yang berkesinambungan.

Jadi, sekali lagi, bisnismu harus meningkat. Meskipun telah mengalami peningkatan, bisa jadi bisnis tersebut tak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Pengalaman dari Twitter, Medium, dan SoundCloud bisa menjadi bahan pelajaran untuk kamu. Tiga perusahaan ini berkembang dengan pesat. Namun, hingga kini ketiganya tidak memiliki bisnis yang berjalan dengan baik. Kenyataan ini memang menyakitkan. Saya pun pernah mengalaminya, saat bisnis yang mengandalkan iklan milik saya gagal.

Berdasarkan semua pelajaran itu, kamu tak perlu melakukan hal yang rumit. Buatlah produk yang akan digunakan dan dibeli oleh pengguna. Dengan cara ini, kamu akan mengantongi uang lebih cepat, yang artinya kamu akan lebih mudah membangun bisnis. Jika pengumpulan uang ini sifatnya berulang, memiliki penghasilan rutin dari langganan dan menyasar B2B, maka semua hal itu adalah nilai plus untuk bisnismu.

Jika kamu melakukan hal ini, proses bootstrap pun akan menjadi lebih mudah—yang berarti ….

Pendanaan bukanlah hal wajib bagi startup

Sebagaimana diberitakan di banyak media seperti TechCrunch, Hacker News serta di berbagai acara dan diskusi komunitas, pendanaan adalah hal yang penting dalam membangun startup. Padahal, itu adalah sebuah kebohongan—atau, setidaknya, tidak sepenuhnya benar.

Jika kamu adalah seorang entrepreneur muda (di Asia, atau di belahan bumi mana pun), ketahuilah bahwa bisnis kamu tetap bisa berkembang tanpa mendapatkan pendanaan dari pihak luar. Saat mendengar hal ini pertama kalinya, saya merasa begitu lega dan bebas. Dengan kata lain, saya bisa menjalankan bisnis tanpa perlu mengikuti “aturan main” startup: penggalangan dana, mencari pemodal ventura, mengejar status unicorn, kemudian berujung pada exit.

Ini adalah hal yang penting untuk entrepreneur muda yang baru pertama kali berbisnis. Menjalankan bisnis pribadi yang bagus dan menghasilkan ratusan ribu, bahkan jutaan dolar setahun, mungkin terdengar hebat bagi seorang entrepeneur. Tapi, tidak demikian dengan para investor.

Secara umum, para investor (khususnya para pemodal ventura), tak mau menanamkan saham di perusahaan yang demikian. Mereka hanya mau menyuntikkan dana di perusahaan-perusahaan dengan potensi exit yang besar—baik melalui akuisisi atau menjadi perusahaan terbuka bernilai jutaan bahkan miliaran dolar. Di lain pihak, sebagian besar aset para founder biasanya terikat dengan bisnis yang mereka jalankan.

Jika kamu adalah seorang entrepreneur muda (di Asia atau di belahan bumi mana pun), ketahuilah bahwa bisnis kamu tetap bisa berkembang tanpa mendapatkan pendanaan dari pihak luar

Secara umum, para pemodal ventura ingin agar uangnya (yang sebenarnya adalah uang para investor) ditanamkan pada beberapa bisnis dalam portofolio mereka. Artinya, kepentingan finansial para entrepreneur tidak sejalan dengan kebanyakan investor. Dua pihak ini punya cara bermain yang berbeda, dan perbedaan ini bisa sangat menyakitkan.

Yang terpenting bagi pemodal ventura adalah peluang untuk exit, serta diversifikasi investasi yang mereka lakukan mampu mengurangi risiko atas kegagalan dalam portofolionya. Mereka lebih mendorong kamu mengembangkan bisnis sejauh mungkin demi mengejar nilai exit bernilai miliaran dolar, daripada puas dengan hanya bisnis pribadi senilai jutaan dolar.

Ini adalah pil pahit yang ingin kita hindari. Karena kamu membuat produk yang dibeli pengguna, kamu bisa meraup pemasukan di tahap awal bisnis, sehingga kamu tak perlu pusing di tengah jalan karena kekurangan uang.

Jangan salah sangka, saya tidak sepenuhnya menentang keberadaan pemodal ventura. Ada momen yang tepat untuk para pemodal ventura. Mungkin, suatu hari nanti kamu membutuhkan suntikan dana dari mereka. Tapi sebaiknya saat kamu memerlukan mereka, bisnismu telah meraih untung lebih dulu, serta dilengkapi dengan produk yang telah teruji di pasar dan strategi pertumbuhan yang berkesinambungan.

Jika di tahap tersebut kamu memutuskan untuk mencari pendanaan dari pemodal ventura, kepentingan finansial kamu akan lebih sejalan dengan investor. Pasalnya, di tahap itu, kemungkinan besar kamu telah meraup keuntungan dari bisnis tersebut.

Kamu bisa mencari pendanaan dengan klausul yang lebih baik: mempertahankan lebih banyak ekuitas dan kendali atas bisnismu. Kendali—memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang penting dan bagaimana kamu mengalokasikan waktumu—adalah hal berharga dan sering luput dari dunia startup.

Jangan stres

Berkecimpung di dunia startup bisa membuat kamu stres. Dunia startup penuh dengan petualangan emosi yang naik turun. Tak ada istilah work-life balance, karena kamu harus bekerja hingga delapan puluh jam seminggu.

Ini adalah nasihat yang buruk dan kuno. Bila para founder berpikir bekerja keras adalah hal yang normal, maka mereka tak akan keberatan jika pekerjaan mendominasi kehidupan mereka. Mereka pikir, tumpukan pekerjaan adalah hal yang biasa.

Padahal, kenyataannya tidaklah demikian.

Anggapan yang menyebut kultur startup begitu lekat dengan stres, hidup tidak seimbang, bahkan membuat kamu menjadi seseorang yang gila kerja, adalah salah besar. Saya jadi khawatir memikirkan para entrepreneur (dan timnya) yang menerima ide gila ini sebagai risiko menjalankan bisnis.

Nyatanya, kamu harus menyadari dua hal ini: pertama, pekerjaan tidak akan pernah habis; kedua, kebiasaan kamu dalam bekerja dan kultur yang kamu bangun saat ini akan terus melekat pada dirimu untuk jangka panjang.

Jadi, tak ada salahnya membangun kebiasaan kerja yang sehat untuk hidupmu. Daripada bekerja selama enam belas jam sehari, mengapa tak mencoba untuk bekerja fokus dalam empat atau enam jam saja?

Bekerja selama enam belas jam sehari sekalipun tetap akan menyisakan pekerjaan untuk esok hari. Jadi, alokasikan sisa waktumu di hari itu untuk hal-hal lain yang lebih penting: keluarga, teman-teman, makan malam, ngopi, berolahraga, melakukan hobi, atau menghabiskan waktu dengan pasanganmu. Semua hal ini (ditambah dengan bisnismu) akan membentuk hidup yang lebih menyenangkan.

Nyatanya, kamu harus menyadari dua hal ini: pertama, pekerjaan tidak akan pernah habis; kedua, kebiasaan kamu dalam bekerja dan kultur yang kamu bangun saat ini akan terus melekat dalam dirimu selama-lamanya.

Kami berpegang pada filosofi ini dan membiarkan anggota tim kami untuk mengikutinya. Kami lebih suka memberikan kebebasan pada tim untuk bekerja di tempat yang nyaman dengan ritme kerja yang berkesinambungan. Sehingga mereka bisa menjadi kreatif, produktif, dan bahagia dalam jangka panjang, daripada “mengikat” mereka dengan tumpukan pekerjaan.

Jadi, sebisa mungkin hindarilah stres. Kamu perlu menikmati hidupmu, bersantai, bermeditasi, dan membiarkan anggota tim kamu menikmati hal serupa.

Menjalani hidup yang baik

Orang-orang Asia yang skeptis mungkin akan berpikir bahwa kami tidak cukup ambisius dalam menjalankan bisnis. Mungkin kami melewatkan kesempatan untuk meraup pundi-pundi uang. Namun, memiliki banyak uang, pengguna, pangsa pasar nyatanya tak terlalu penting bagi kami.

Secara finansial, kondisi kami baik-baik saja. Dengan tingkat pertumbuhan saat ini, kami berpotensi meraih satu juta dolar pendapatan pada tahun depan. Kami juga ingin agar bisnis ini tumbuh dengan nilai jutaan dolar di tahun-tahun berikutnya. Seberapa besar uang yang kami dapat? Kami tak peduli.

Ketika kamu mengembangkan produk yang dibeli orang-orang, tak terikat dengan suntikan dana dari pemodal ventura, serta menghindari kebiasaan bekerja terlalu keras, saat itulah hidupmu menjadi sangat menyenangkan

Meski kami sangat menginginkan penghasilan, uang bukanlah motivasi utama. Kami memang sangat ambisius, tapi dengan cara yang berbeda. Kami ingin menjadi kreatif, melayani orang lain, mengembangkan produk yang dicintai orang, dan menaklukkan berbagai tantangan kerja.

Uang hanyalah hal ke sekian yang ada di pikiran kami. Uang bukanlah tujuan dan alasan kami membangun bisnis. Dan, saya rasa, inti dari nasihat ini adalah keinginan kita untuk menjalani hidup yang baik.

Dan, pada akhirnya, ketika kamu mengembangkan produk yang dibeli orang-orang, tak terikat dengan suntikan dana dari pemodal ventura, serta menghindari kebiasaan bekerja terlalu keras, saat itulah hidupmu menjadi sangat menyenangkan.

Source: id.techinasia.com