Faspay dan Xfers Ciptakan Xfas untuk Permudah Proses Transaksi Social Commerce

Melihat berbagai permasalahan yang ditemukan dalam proses social commerce, dua perusahaan fintech yaitu Faspay dan Xfers berkolaborasi untuk menciptakan sebuah solusi bernama Xfas. Kerja sama ini dilandasi dari tren pemanfaatan media sosial sebagai sarana berjualan secara online yang semakin marak di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat banyak. Sebuah laporan dari perusahaan riset We Are Social menunjukkan bahwa 92 juta orang Indonesia menggunakan media sosial.

Walaupun begitu, berjualan menggunakan media sosial (atau disebut juga social commerce) bisa jadi cukup merepotkan. Komunikasi antara pedagang dengan pembeli kadang kurang efektif karena ketiadaan proses tatap muka.

Xfas-Featured

Misalnya, pembeli bertanya melalui kolom komentar ketika banyak orang lain juga ikut menulis pesan, sehingga pertanyaan tadi tertumpuk. Jika penjual tidak segera memberikan jawaban, bisa jadi calon pembeli menunda atau bahkan membatalkan transaksi.

Selain itu, proses pemeriksaan transaksi biasanya masih dilakukan secara manual, padahal bagian tersebut cukup krusial. Tentu cukup merepotkan apabila tiap transaksi harus dicek satu per satu. Belum lagi jika harus memeriksa stok barang apa saja yang sudah mulai menipis.

Xfas coba tangkap peluang di ranah social commerce

Menurut Eddy Tju selaku Vice President Business Development Faspay, “Alasan utama Faspay dan Xfers berkolaborasi menciptakan Xfas adalah untuk membawa tren baru di bidang fintech, khususnya untuk para social media seller di Indonesia.”

Kehadiran Xfas diharapkan dapat menjadi solusi bagi para penjual online di media sosial. Salah satunya adalah membantu mereka mengurangi masalah yang terjadi pada saat terjadi transaksi jual-beli online. Selain itu, juga dengan memberikan manfaat tambahan seperti manajemen barang dagangan.

Promosi barang lewat tautan

Sebagai penyedia layanan product and payment link yang berfungsi untuk memudahkan proses berjualan di ranah social commerce, Xfas menanamkan sejumlah fitur yang membantu para penggunanya. Sejumlah fitur yang disediakan meliputi Inventory Management untuk memantau stok barang, Online Payment untuk menerima pembayaran dengan berbagai cara, hingga Buyer’s Protection untuk memastikan penjual telah memproses pengiriman barang.

Ada fitur Low Stock Alert yang berfungsi sebagai pengingat penjual jika stok barang mulai menipis. Disediakan pula fitur Real Time Notification yang dapat membantu penjual agar dapat terus memantau status transaksi secara otomatis.

Penjual perlu mendaftar di situs Xfas terlebih dahulu untuk menggunakan layanan ini. Setelah mendaftar, penjual bisa memasukkan harga, foto, dan detail barang. Selanjutnya penjual akan mendapatkan tautan produk untuk dibagikan ke berbagai media sosial.

Tautan tersebut berisi informasi produk dari mulai gambar, deskripsi, jumlah stok yang tersedia, harga, dan sebagainya. Pembeli yang ingin melihat cukup mengeklik tautan tersebut tanpa perlu melakukan login ke Xfas.

Manfaatkan pengalaman dua fintech

Xfers adalah startup asal Singapura yang menyediakan layanan pembayaran peer-to-peer (P2P) secara online. Mulai beroperasi sejak 2014 di Singapura, Xfers telah berhasil menangani transaksi bernilai miliaran rupiah hanya dalam waktu dua tahun.

Sedangkan Faspay adalah penyedia layanan payment gateway asal Indonesia. Keberadaannya sejak tahun 2003 membuat Faspay cukup memahami kondisi pasar dan budaya Indonesia.

“Tentunya kolaborasi dari dua perusahaan ini diharapkan akan menjadi sebuah dasar yang kuat untuk membawa Xfas ke market Indonesia,” tambah mereka.

Xfas pertama kali diluncurkan dalam versi beta pada Desember 2016. Sejak saat itu, mereka mengklaim telah melayani lebih dari dua ribu transaksi serta memiliki lebih dari 1.500 pengguna yang terdaftar.

Pihak Xfas mengklaim belum ada kompetitor yang menyediakan layanan serupa di Indonesia untuk saat ini. Xfas melakukan monetisasi dengan cara mengenakan biaya untuk setiap transaksi yang berhasil dilakukan.

Sebelumnya, ada juga startup lainnya yang mencoba mengintegrasikan social commerce dengan layanan mereka. Seperti Shopious yang merupakan agregator toko online fesyen Instagram. Sayangnya, mereka terpaksa menutup layanan karena beberapa alasan.

Lalu ada juga Kleora yang yang berperan sebagai marketplace bagi para pelaku social commerce. Kini, Kleora telah melakukan pivot menjadi marketplace barang bekas bernama Prelo.

Xfas memiliki model bisnis yang berbeda dibandingkan kedua startup tadi. Dengan langsung menyasar sumber permasalahan yang lebih spesifik, startup ini sepertinya memiliki peluang yang lebih menjanjikan untuk dilirik para pemain social commerce.

Source: id.techinasia.com